Abstract
Ratu
Kalinyamat or Queen of Jepara was women Indonesian figure who had
important role in politic and economic activities in Nusantara in the 16th
century. She had original name was Retno Kencono. She was daughter of
Sultan Trenggana, king of Demak Kingdom who ruled in the medium of 16th
century. In 1544 Sultan Trenggana sent Ratu Kalinyamat to asked support
from King Banten for territorial expansion of Demak Kingdom in East
Java. Ratu Kalinyamat ruled in Jepara since 1549, changed her husband,
Pangeran Hadiri, as king of Jepara. In 1551 she sent military expedition
to helped King of Johor attacked Portugis in Malaka. In 1574 she sent
military expedition again to drived away Portugis in Malaka fort helped
King of Aceh. As long as ruled in Jepara she developed Jepara as
international harbor successfully. She also pioneered carving as the
specific art of Jepara, after that it’s become important economic
activity in Jepara.
Ratu Kalinyamat died in 1579.
I. PENGANTAR
Ratu Kalinyamat adalah
seorang tokoh wanita yang sangat terkenal. Dia tidak hanya berparas
cantik, tetapi juga berkepribadian "gagah berani" seperti yang
dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang seorang wanita yang pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica
yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa. Di
samping itu, selama 30 tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa
Jepara ke puncak kejayaannya (Diego de Couto, 1778-1788).
Ratu Kalinyamat adalah tokoh wanita Indonesia yang penting peranannya pada abad ke
16.
Peranannya mulai menonjol ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga
Kesultanan Demak. Ia menjadi tokoh sentral yang menentukan dalam
pengambilan keputusan. Di samping memiliki karakter yang kuat untuk
memegang kepemimpinan, ia memang menduduki posisi strategis selaku putri
Sultan Trenggana, Raja Demak ke tiga. Sultan Trenggana adalah putra
Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak.
Selama 30 tahun berkuasa,
Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya.
Dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua
sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka. Walaupun telah melakukan
taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata
ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke
Jawa. Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka
tersebut adalah Kyai Demang Laksamana (sumber Portugis menyebut dengan
nama Quilidamao).
Uraian singkat di bawah ini akan menjelaskan tentang :
- Siapakah tokoh Ratu Kalinyamat?
- Bagaimana riwayat hidup Ratu Kalinyamat?
- Bagaimana peranan Ratu Kalinyamat dalam sejarah Indonesia sehingga ia dipandang sebagai tokoh yang besar jasanya bagi bangsa Indonesia?
B. SIAPA TOKOH RATU KALINYAMAT?
Sejak terjadinya perebutan
tahta di Demak, nama Ratu Kalinyamat muncul dalam panggung sejarah
Indonesia, khususnya sejarah Jawa. Dalam sejarah dinasti Demak, tokoh
Ratu Kalinyamat mempunyai nama yang begitu menonjol ketika kerajaan itu
mengalami kemerosotan akibat konflik perebutan tahta. Popularitasnya
jauh lebih menonjol dibanding dengan Pangeran Hadiri, bahkan Sultan
Prawata, raja Demak ke empat.
Ratu Kalinyamat adalah putri
Pangeran Trenggana dan cucu Raden Patah, sultan Demak yang pertama.Ratu
Kalinyamat mempunyai nama asli Retna Kencana yang kemudian dikenal
sebagai Ratu Kalinyamat. Retna Kencana kemudian tampil sebagai tokoh
sentral dalam penyelesaian konflik di lingkungan keluarga Kesultanan
Demak. Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi
penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini ditandai
dengan sengkalan tahun (candra sengkala) Trus Karya Tataning Bumi yang
diperhitungkan sama dengan 10 April 1549. Selama masa pemerintahan Ratu
Kalinyamat, Jepara semakin pesat perkembangannya. Menurut sumber
Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz menyebutkan bahwa Jepara menjadi
kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut
yang besar dan kuat pada abad ke-16.
Adanya gelar ratu
menunjukkan bahwa di lingkungan istana kedudukannya cukup tinggi dan
menentukan. Lazimnya gelar itu hanya dipakai oleh orang-orang tertentu,
misalnya seorang raja wanita, permaisuri, atau puteri sulung raja. Babad Demak Jilid 2
menempatkan Ratu Kalinyamat sebagai puteri sulung Sultan Trenggana.
Kalau ini benar, berarti gelar ratu sudah sepantasnya melekat padanya.
Sebagai puteri sulung raja, ia disebut Ratu Pembayun. Pernyataan ini
memiliki kesesuaian dengan sumber Portugis. Seorang musafir Portugis
yang bernama Fernao Mendez Pinto (1510-1583) menerangkan, ketika ia
datang di Banten pada tahun 1544, datang lah utusan Raja Demak, seorang
wanita bangsawan tinggi bernama Nyai Pombaya. Besar kemungkinan yang
dimaksudkan adalah Ratu Pembayun. Dengan demikian gelar ratu itu
diperoleh dari ayahnya, dan bukan berasal dari suaminya yang hanya
seorang penguasa daerah setingkat adipati.
Menurut Babad Tanah Jawi,
Sultan Trenggana mempunyai enam orang putra. Putra sulung adalah
seorang putri yang dinikahi oleh Pangeran Langgar, putra Ki Ageng
Sampang dari Madura. Putra ke dua seorang laki-laki yang bernama
Pangeran Prawata yang kelak menggantikan ayahnya menjadi Sultan Demak ke
tiga. Putra ke tiga seorang putri yang menikah dengan Pangeran
Kalinyamat. Putra ke empat juga seorang putri yang menikah dengan
seorang pangeran dari Kasultanan Cirebon. Putra ke lima juga putri
menikah dengan Raden Jaka Tingkir yang kelak menjadi Sultan Pajang
bergelar Sultan Hadiwijaya. Ada pun putra bungsu adalah Pangeran Timur,
yang masih sangat muda ketika ayahnya wafat (Sudibyo, Z.H., 1980 : 62).
Dalam sumber-sumber sejarah
Jawa Barat, dijumpai nama Ratu Arya Japara, atau Ratu Japara untuk
menyebut nama Ratu Kalinyamat (Hoesein Djajadiningrat, 1983: 128).
Sementara itu Serat Kandhaning Ringgit Purwa
menyebutkan bahwa Sultan Trenggana berputra lima orang. Putra pertama
hingga ke empat adalah putri sedang putra bungsunya laki-laki. Putri
sulung bernama Retna Kenya yang menikah dengan Pangeran Sampang dari
Madura, putri ke dua adalah Retna Kencana yang menikah dengan Kyai
Wintang, putri ke tiga adalah Retna Mirah menikah dengan Pangeran Riyo,
putri ke empat seorang putri, dan putra bungsunya bernama Pangeran
Prawata (Serat Kandhaning Ringgit Purwa. KGB No 7: 257).
Dari sumber ini terungkap bahwa Ratu Kalinyamat memiliki nama asli
Retna Kencana. Suaminya, Kyai Wintang mempunyai sebutan lain Pangeran
Hadiri/Pangeran Hadirin atau Pangeran Kalinyamat (P.J. Veth, 1912).
Ratu Kalinyamat dapat digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas, berwibawa, bijaksana,
dan pemberani. Kewibawaan dan kebijaksanaannya tercermin dalam
peranannya sebagai pusat keluarga Kesultanan Demak. Walau pun Ratu
Kalinyamat sendiri tidak berputera, namun ia dipercaya oleh
saudara-saudaranya untuk mengasuh beberapa keponakannya. Menurut
sumber-sumber sejarah tradisional dan cerita-cerita tutur di Jawa,
ternyata ia menjadi pusat keluarga Kerajaan Demak yang telah tercerai
berai sesudah meninggalnya Sultan Trenggana dan Sultan Prawata.
Ratu Kalinyamat adalah
seorang raja perempuan yang bertempat tinggal di Kalinyamat, suatu
daerah di Jepara yang sampai sekarang masih ada. Kalinyamat kira-kira 18
kilo meter dari Jepara masuk ke pedalaman, di tepi jalan ke
Jepara-Kudus. Pada abad ke-16 Kalinyamat menjadi tempat kedudukan
raja-raja di Jepara. Kalinyamat adalah nama suatu daerah yang juga
dipakai sebagai nama penguasanya. Th. C. Leeuwendal, Asisten Residen
Jepara dalam Oudheidkundig Verslag 1930
menjelaskan mengenai lokasi kraton Kalinyamat dengan menggunakan berita
dari Diego de Couto. Peta Karesidenan Kalinyamat terletak kira-kira 2
pal sebelah selatan Krasak dan di sebelah barat jalan besar
Kudus-Jepara.
Sementara itu P.J. Veth
(1912) mencatat bahwa Kalinyamat pernah menjadi tempat kedudukan Ratu
Jepara, suatu tempat yang ditemukan jejak-jejak atau bekas kebesaran
masa lalu. Meski pun penduduk setempat dan para pegawai sama sekali
tidak tahu tempat yang tepat dari bekas istana, tetapi setiap orang
berbicara mengenai Ratu Kalinyamat. Di berbagai desa seperti Purwogondo,
Robayan, Kriyan, dan tempat-tempat lain terdapat legenda mengenai Ratu
Kalinyamat. Ada dugaan Krian mungkin merupakan tempat para "rakriya"
(para bangsawan). Beberapa tempat di daerah ini masih bernama Pecinan,
pada hal tidak ada lagi orang Cina yang bertempat tinggal di situ.
Kemudian diketahui bahwa desa Robayan dan beberapa desa lainnya masih
memakai nama Kauman. Di tempat-tempat tertentu orang masih menyebutnya
dengan nama Sitinggil (Siti-inggil), yang terletak di tengah-tengah
tanah tegalan. Di situ ditemukan dinding tembok dari kraton lama yang
diperkirakan panjang kelilingnya antara 5-6 km persegi. Di sana sini
terdapat benteng yang menonjol ke luar. Batas-batas dari kraton
kira-kira meliputi sepanjang jalan besar Kudus, Jepara, Kali Bakalan,
yang pada tahun 1900-an merupakan garis batas antara onderdistrik
Pacangaan, Welahan, dan Kali Kecek. Di kebanyakan tempat, tembok-tembok
kraton itu masih dalam kondisi yang bagus. Di suatu tempat yang disebut
Sitinggil, memang ditemukan bangunan batu bata yang ditinggikan,
sementara di tempat lain menunjukkan adanya tempat mandi. Dengan melalui
penggalian percobaan di beberapa tempat dapat ditemukan adanya
dinding-dinding benteng yang sangat berat yang memanjang sampai beberapa
ratus meter. Di tempat itu juga ditemukan fondasi-fondasi yang terbuat
dari batu bata yang lebih kecil ukurannya dari pada emplasemen
Majapahit. Batu-batu bata ini telah diambili dan dimanfaatkan oleh penduduk.
Di samping itu P.J. Veth
memperoleh temuan penting dari berita Portugis mengenai "Cerinhama" atau
"Cherinhama" yang disebut sebagai ibukota sebuah kerajaan laut atau
kota pelabuhan Jepara yang terletak 3 mil atau kira-kira 12,5 pal ke
pedalaman. Di tempat itu lah letak reruntuhan kraton Kalinyamat yang
menjadi tempat kedudukan atau peristirahatan Ratu Jepara. (Veth III,
1882 : 762).
Diperkirakan
bahwa selama menjadi penguasa Jepara, Ratu Kalinyamat tidak tinggal di
Kalinyamat, akan tetapi di sebuah tempat semacam istana di kota
pelabuhan Jepara. Sumbersumber Belanda awal abad ke-17 menyebutkan bahwa
di kota pelabuhan terdapat semacam istana raja (koninghof). Hal ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat sebagai tokoh masyarakat bahari memang tinggal di kota pelabuhan, sementara itu daerah Kalinyamat hanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan.
C. BIOGRAFI RATU KALINYAMAT
Sejak masih gadis, Ratu
Kalinyamat memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati
Jepara. Kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus,
Rembang dan Blora. Kerajaan kecilnya mula-mula didirikan di Kriyan.
Ratu Kalinyamat
menikah dengan Pangeran Hadiri. Salah satu versi menyebutkan bahwa ia
adalah putera Sultan Ibrahim dari Aceh, yang bergelar Sultan Muhayat
Syah. Waktu kecilnya bernama Pangeran Toyib. Setelah menikah dengan Ratu
Kalinyamat, ia diberi gelar Pangeran Hadiri, yang berarti yang hadir
(dari Aceh ke Jepara)
Pertemuan dengan
Ratu Kalinyamat terjadi karena pada waktu itu Pangeran Toyib diutus
oleh Sultan Aceh untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di
Kesultanan Demak. Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan, arif
bijaksana, berwawasan Islam luas, dan ketaatan iman, serta berani
menentang penjajah Portugis. Setelah mengetahui asal-usul Raden Toyib,
hati Ratu Kalinyamat menjadi berdebar-debar. Ia teringat akan ramalan
ayahnya bahwa pria yang akan menjadi pendampingnya kelak bukan berasal
dari kalangan orang Jawa, melainkan berasal dari negeri seberang.
Kemudian Ratu Kalinyamat bersedia diperistri oleh Raden Toyib.
Pada masa mudanya Pangeran
Toyib mengembara ke negri Cina. Di sana ia bertemu dengan Tjie Hwie
Gwan, seorang Cina muslim yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Konon,
ayah angkatnya tersebut menyertainya ke Jepara. Setelah menikah dengan
Ratu kalinyamat dan menjadi adipati di Jepara, Tjie Hrie Gwan diangkat
menjadi patih dan namanya berganti menjadi Pangeran Sungging Badar
Duwung (sungging ‘memahat’, badar ‘batu atau akik’, duwung
‘tajam’). Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang
ahli pahat dan seni ukuir. Diceritakan bahwa dialah yang membuat hiasan
ukiran di dinding masjid Mantingan. Ialah yang mengajarkan keahlian seni
ukir kepada penduduk di Jepara. Di tengah kesibukannya sebagi
mangkubumi Kadipaten Jepara, Badar Duwung masih sering mengukir di atas
batu yang khusus didatangkan dari negeri Cina. Karena batu-batu dari
Cina kurang mencukupi kebutuhan, maka penduduk Jepara memahat ukiran
pada batu putih.
Pernikahan Ratu Kalinyamat
dengan Pangeran Hadiri tidak berlangsung lama. Hati Ratu Kalinyamat
sangat terpukul dan berduka atas kematian Pangeran Hadiri pada tahun
1549 yang dibunuh oleh utusan Arya Penangsang. Pembunuhan terjadi seusai
menghadiri upacara pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawoto yang juga
tewas di tangan Arya Penangsang. Untuk menghadapi amukan Arya
Penangsang, Ratu Kalinyamat bertapa di Gelang Mantingan, kemudian pindah
ke Desa Danarasa, lalu berakhir di tempat Donorojo, Tulakan, Keling
Jepara.
Setelah kematian Ario
Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar
Ratu Kalinyamat. Penobatan ini terjadi dengan ditandai adanya sengkalan Trus Karya Tataning Bumi,
yang diperhitungkan sama dengan tanggal 12 Rabiul Awal atu 10 April
1549. Selama masa kekuasaannya, Jepara semakin berkembang menjadi Bandar
terbesar di pantai utara Jawa, dan memiliki armada laut yang besar
serta kuat.
Dalam perkawinanannya, Ratu
Kalinyamat tidak dikaruniai putra. Ia merawat beberapa anak asuh. Salah
satu anak asuhnya ialah adiknya sendiri, Pangeran Timur, yang berusia
masih sangat muda ketika Sultan Trenggana meninggal. Setelah dewasa,
Pangeran Timur menjadi adipati di Madiun yang dikenal dengan nama
Panembahan Madiun (G. Moedjanto, 1987 : 155 dan Sartono Kartodirdjo,
1987: 129).
Dalam Sejarah Banten
tercatat bahwa Ratu Kalinyamat mengasuh Pangeran Arya, putera Maulana
Hasanuddin, Raja Banten (1552-1570) yang menikah dengan puteri Demak,
Pangeran Ratu ( Hoesein Djajadiningrat, 1983 : 128). Menurut
historiografi Banten, Maulana Hasanuddin dianggap sebagai pendiri
Kesultanan Banten. Maulana Hasanuddin sendiri juga berdarah Demak.
Ayahnya, Fatahillah sedang ibunya adalah saudara perempuan Sultan
Trenggana. Maulana Hasanuddin kawin dengan putri Sultan Trenggana. Dari
perkawinannya itu lahir dua orang putra, yang pertama Maulana Yusuf dan
yang ke dua Pangeran Jepara. Yang terakhir ini disebut demikian karena
kelak ia menggantikan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara. Selama di
Jepara, Pangeran Arya diperlakukan sebagai putra mahkota. Setelah
bibinya meninggal, ia memegang kekuasaan di Jepara dan bergelar Pangeran
Jepara (H.J. de Graaf, 1986: 129). Masa pemerintahannya dan peranannya
dalam bidang politik dan ekonomi memang tidak begitu menonjol seperti
bibinya.
Tidak disebutkan dengan
jelas apa alasannya Pangeran Arya dikirim ke Jepara untuk dididik oleh
bibinya. Meski pun demikian, dapat diduga bahwa Ratu Kalinyamat
dipandang mampu membimbing dan mendidik, memiliki wibawa, dan
berpengaruh. Adakalanya pendidikan putra raja diserahkan kepada keluarga
raja yang bertempat tinggal tidak bersama-sama raja. Pemilihan Ratu
Kalinyamat sebagai pendidik Pangeran Arya menunjukkan bahwa ia memiliki
kepribadian yang kuat.
Di samping mengasuh kedua
anak muda itu, Ratu Kalinyamat juga dipercaya untuk membesarkan
putra-putra Sultan Prawata yang telah menjadi yatim piatu. Sultan
Prawata mempunyai tiga orang putra, dua laki-laki dan satu perempuan.
Salah satu putra Sultan Prawata adalah Pangeran Pangiri, yang kelak
berkuasa di Demak. Selain sebagai keponakan, kelak ia juga menjadi
menantu Sultan Pajang (H.J. de Graaf, 1986: 272). Tahun meninggalnya
Ratu Kalinyamat tidak dicantumkan dalam kitab kesusasteraan Jawa. Ia
dimakamkan di dekat suaminya di pemakaman Mantingan dekat Jepara, yang
mungkin dibangun atas perintahnya sendiri, sesudah ia menjadi janda pada
tahun 1549.Pengganti Ratu Kalinyamat adalah Pangeran Japara yang
berkuasa dari tahun 1579 sampai tahun 1599. Menurut cerita Babad Tanah Jawi, ia adalah anak angkat Ratu Kalinyamat. Akan tetapi sumber Sejarah Banten
menyebutkan bahwa putra mahkota itu, yang bernama Pangeran Aria atau
Pangeran Jepara itu adalah anak angkat Ratu Kalinyamat, putra Raja
Hasanudin, Raja Banten. Pada masa inilah peranan Jepara sebagai kota
pelabuhan yang penting mengalami masa kemerosotannya.
D. PERANAN RATU KALINYAMAT DALAM SEJARAH INDONESIA
Ratu Kalinyamat sebagai
kepala daerah Jepara telah memainkan peranan penting tidak hanya pada
level lokal atau regional, tetapi pada level internasional. Peranannya
meliputi berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang politik, ekonomi,
sosial budaya, mau pun hubungan internasional.
1. Peranan Ratu Kalinyamat dalam Bidang Politik
Peranan politik yang
dilakukan Ratu Kalinyamat diawali ketika terjadi kemelut di istana Demak
pada pertengahan abad ke-16 yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan
sepeninggal SultanTrenggana. Perebutan tahta menimbulkan peperangan
berkepanjangan yang berakhir dengan kehancuran kerajaan. Perebutan
kekuasaan terjadi antara keturunan Pangeran Sekar dengan Pangeran
Trenggana. Kedua pangeran ini memang berhak menduduki tahta Kesultanan
Demak. Dari segi usia, Pangeran Sekar lebih tua sehingga merasa lebih
berhak atas tahta Kesultanan Demak dari pada Pangeran Trenggana. Namun
Pangeran Sekar lahir dari istri ke tiga Raden Patah, yaitu putri Adipati
Jipang, sedangkan Pangeran Trenggana lahir dari istri pertama, putri
Sunan Ampel. Oleh karena itu Pangeran Trenggana merasa lebih berhak
menduduki tahta Kesultanan Demak (Djuliati Suroyo dkk, 1995: 29 dan
Slamet Mulyono, 1968: 120).
Pangeran Prawata, putra
Pangeran Trenggana, membunuh Pangeran Sekar yang dianggap sebagai
penghalang bagi Pangeran Trenggana untuk mewarisi tahta Kesultanan
Demak. Pembunuhan terjadi di sebuah jembatan sungai saat Pangeran Sekar
dalam perjalanan pulang dari salat Jum’at. Oleh karena itu, ia dikenal
dengan nama Pangeran Sekar Seda Lepen. Menurut tradisi lisan di daerah
Demak, pembunuhan itu terjadi di tepi Sungai Tuntang, sedang menurut
tradisi Blora Pangeran Sekar dibunuh di dekat Sungai Gelis (Karyana
Sindunegara, 1996/1997: 83-87).
Pembunuhan ini menjadi
pangkal persengketaan di Kerajaan Demak. Raden Arya Penangsang, putra
Pangeran Sekar berusaha menuntut balas atas kematian ayahnya, sehingga
ia berusaha untuk menumpas keturunan Sultan Trenggana. Apalagi ia
mendapat dukungan secara penuh dari gurunya. Sunan Kudus.
Pangeran Sekar mempunyai
dua orang putra, yaitu Raden Penangsang dan Raden Mataram. Sepeninggal
ayahnya, Raden Penangsang diangkat menjadi adipati di Jipang bergelar
Raden Arya Penangsang. Menurut pandangan masyarakat Blora Arya
Penangsang tampangnya seram, berkumis tebal, uwang malang, paha belalang, namun tidak begitu tinggi. Ia suka memakai celana komprang berwarna hitam, bebedan, dan memakai destar (Karyana Sindunegara dkk., 1996/1997: 84).
Bagi lawan-lawan politiknya,
Arya Penangsang dituduh telah banyak melakukan kejahatan dan pembunuhan
terhadap keturunan Sultan Trenggana. Ia menyuruh Rangkut dan Gopta
untuk membunuh Sultan Prawata. Sultan Prawata terbunuh bersama
permaisurinya pada tahun 1549 (Babad Demak II:
28). Ia kemudian membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat.
Pangeran Hadiri berhasil dibunuh oleh pengikut Arya Penangsang dalam
perjalanan pulang dari Kudus, mengantarkan istrinya dalam rangka minta
keadilan dari Sunan Kudus atas dibunuhnya Sultan Prawata oleh Arya
Penangsang. Namun Sunan Kudus tidak dapat menerima tuntutan Ratu
Kalinyamat karena ia memihak Arya Penangsang. Menurut Sunan Kudus,
Sultan Prawata memang berhutang nyawa kepada Arya Penangsang yang harus
dibayar dengan nyawanya. Arya Penangsang juga mencoba membunuh Adipati
Pajang Hadiwijaya, menantu Sultan Trenggana. Namun menurut J.Brandes
(1901: 488-491), ia bertindak demikian karena membela hak-haknya
Kematian Sultan Prawata dan
Pangeran Hadiri tampaknya membuat selangkah lagi bagi Arya Penangsang
untuk menduduki tahta Demak. Meskipun pembunuhan terhadap Sunan Prawata
dan Pangeran Hadiri telah berjalan mulus, namun Sunan Kudus merasa belum
puas apabila Arya Penangsang belum menjadi raja, karena masih ada
penghalangnya yaitu Hadiwijaya. Atas nasehat Sunan Kudus, Arya
Penangsang berencana membunuh Hadiwijaya namun mengalami kegagalan.
Kegagalan itu mendorong pecahnya perang antara Jipang dengan Pajang.
Di
luar dugaan pihak Sunan Kudus dan Arya Penangsang, ternyata Ratu
Kalinyamat tampil memainkan peranan penting dalam menghadapi Arya
Penangsang. Ratu Kalinyamat minta kepada Hadiwijaya untuk membunuh Arya
Penangsang. Didorong oleh naluri kewanitaannya yang sakit hati karena
kehilangan suami dan saudara, ia telah menggunakan wewenang politiknya
selaku pewaris dari penguasa Kalinyamat dan penerus keturunan Sultan
Trenggana. Ratu Kalinyamat memiliki sifat yang keras hati dan tidak
mudah menyerah pada nasib. Menurut kisah yang dituturkan dalam Babad Tanah Jawi, ia mertapa awewuda wonten ing redi Danaraja, kang minangka tapih remanipun kaore (bertapa dengan telanjang di gunung Danaraja, yang dijadikan kain adalah rambutnya yang diurai). Tindakan ini dilakukan untuk mohon keadilan kepada Tuhan dengan
cara menyepi di Gunung Danaraja. Ia memiliki sesanti, baru akan
mengakhiri pertapaanya apabila Arya Penangsang telah terbunuh.
Pernyataan Babad Tanah Jawi
itu merupakan suatu kiasan yang memerlukan interpretasi secara kritis.
Historiografi tradisional memuat hal-hal yang digambarkna dengan
simbol-simbol dan kiasan-kiasan. Dalam bahasa Jawa kata wuda
(telanjang) tidak hanya berarti tanpa busana sama sekali, tetapi juga
memiliki arti kiasan yaitu tidak memakai barang-barang perhiasan dan
pakaian yang bagus (Suara Merdeka, 10 Desember 1973). Ratu Kalinyamat
tidak menghiraukan lagi untuk mengenakan perhiasan dan pakaian indah
seperti layaknya seorang ratu. Pikirannya ketika itu hanya dicurahkan
untuk membinasakan Arya Penangsang. Di Gunung Danaraja itu lah Ratu
Kalinyamat menyusun strategi untuk melakukan balas dendam kepada Arya
Penangsang.
Peperangan antara Pajang dan
Jipang tidak dapat terelakkan. Dalam peperangan itu, Arya Penangsang
memimpin pasukan Jipang mengendarai kuda jantan bernama Gagak Rimang
yang dikawal oleh prajurit Soreng. Adapun pasukan Pajang dipimpin oleh
Ki Gede Pemahanan, Ki Penjawi, Ki Juru Mertani. Pasukan Pajang juga
dibantu oleh sebagian prajurit Demak dan tamtama dari Butuh, pengging.
Dalam peperangan itu Arya Penangsang terbunuh.
Terbunuhnya Arya Penangsang
itu terjadi pada tahun 1480 Saka atau 1558 Masehi (Karyana Sindunegara,
1996/1997: 123-114). Menurut Amen Budiman peristiwa itu terjadi pada
tahun 1556 (Amen Budiman, 1993: 78), sedang sumber lain mengatakan Arya
Penangsang gugur pada tahun 1554 (Suripan Sadi Hutomo, 1996).
Pertempuran dimenangkan oleh pihak Pajang dan Arya Penangsang gugur
((H.J. de Graaf, 1986: 91). Rangkaian peristiwa pembunuhan para kerabat
raja Demak hingga perang antara Pajang melawan Jipang itu dalam sumber
tradisi terjadi pada tahun 1549. Hal itu merupakan anti klimaks dari
sejarah dinasti Demak (H.J. de Graaf, 1986: 91).
Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat
Peristiwa perebutan kekuasaan di Demak itu di satu pihak telah
memunculkan tokoh wanita yang memegang peranan penting dalam kesatuan
keluarga Kesultanan Demak, serta dalam bidang politik pemerintahan yang
begitu menonjol. Sementara itu di pihak lain, memunculkan seorang tokoh
baru atau homo novus yaitu Sultan Hadiwijaya.
Fernao Mendez Pinto dalam
kesaksiannya menyatakan bahwa di wilayah Kerajaan Demak terdapat delapan
penguasa yang memiliki hak untuk memilih raja baru sehingga
berkedudukan sebagai dewan mahkota. P.J. Veth (1912) juga menyatakan
terdapat daerah utama yang merdeka di Jawa dan Madura, salah satunya
adalah Kalinyamat. Kedelapan daerah merdeka itu adalah Banten,
Jayakarta, Cirebon, Prawata, Pajang, Kedu, Madura, dan Kalinyamat.
Kedudukan Kalinyamat sebagai daerah merdeka ini menempatkan Ratu
Kalinyamat pada posisi strategis sebagai pemegang kekuasaan di Jepara.
Karena termasuk sebagai dewan mahkota, maka kedudukan dan pengaruh
penguasa di delapan daerah merdeka di bidang politik dan pemerintahan
cukup kuat (H.J. de Graaf, 1986 : 89).
Sultan Demak untuk
menggabungkan daerah Prawata dan Kalinyamat menggambarkan betapa
dekatnya hubungan antara sultan dengan penguasa Kalinyamat. Kekuasaan
Ratu Kalinyamat atas wilayah Kalinyamat dan Prawata cukup kokoh karena
tidak ada ancaman dari pihak mana pun. Agaknya ia dihormati sebagai
kepala keluarga Kasultanan Demak yang sesungguhnya. Sepeninggal Sultan
Prawata, ia menjadi pemimpin keluarga dan pengambil keputusan penting
atas bekas wilayah Kasultanan Demak. Bagi Ratu Kalinyamat kekuasaan
Pangeran Pangiri, putra Sultan Prawata, di Demak begitu kecil. Apalagi
Pangeran Pangiri menjadi
anak asuhnya dan dibesarkan oleh Ratu Kalinyamat. Sementara itu Sultan
Pajang bukan merupakan hambatan bagi Ratu Kalinyamat. Ada pun kekuasaan
raja-raja Banten dan Cirebon baru saja muncul. Dengan demikian, di
antara pewaris dinasti Demak di wilayah pantai utara Jawa, Ratu
Kalinyamat lah yang paling menonjol (H.J. de Graaf, 1986 : 131).
Ratu Kalinyamat diperkirakan memerintah hingga 1579. Penggantinya adalah Pangeran Jepara, putra angkat Ratu Kalinyamat. Sejarah Banten
menyebutkan bahwa putra mahkota Jepara yang bernama Pangeran Aria atau
Pangeran Jepara adalah putra angkat Ratu Kalinyamat, putra raja Banten
Hasanuddin. Pada masa itu peranan Jepara mulai mengalami kemerosotan.
Pada tahun 1599 Jepara dengan susah payah ditundukkan oleh Mataram.
Jepara waktu itu memiliki daya tahan yang kuat karena kota pelabuhan itu
dikelilingi dengan benteng yang menghadap ke pedalaman dan dijaga ketat
oleh prajurit Jepara.
2. Peranan Ratu Kalinyamat dalam Bidang Ekonomi
Di bawah pemerintahan Ratu
Kalinyamat, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Kekalahan dalam
perang di laut melawan Malaka pada tahun 1512-1513 pada masa
pemerintahan Pati Unus, menyebabkan Jepara nyaris hancur. Akan tetapi
perdagangan lautnya tidaklah musnah sama sekali. (H.J. de Graaf, 1986:
125). Kegiatan ekonomi menjadi semakin terbengkalai pada saat wilayah
Kesultanan Demak menjadi ajang pertempuran antara Arya Penangsang dengan
keturunan Sultan Trenggana. Meski pun demikian, perdagangan lautnya
masih dapat berlangsung, walau kurang berkembang.
Setelah berakhirnya
peperangan melawan Arya Penangsang, Jepara mengalami perkembangan
tersendiri. Apabila Sultan Pajang sibuk dalam rangka konsolidasi
wilayah, maka Jepara pun sibuk membenahi pemerintahan dan ekonomi yang
terbengkelai selama intrik politik berlangsung. Perdagangan laut Jepara
dapat berlangsung meski pun kurang berkembang.
Namun beberapa tahun setelah
berkuasa, Ratu Kalinyamat berhasil memulihkan kembali perdagangan
Jepara. Konsolidasi ekonomi memang diutamakan oleh Ratu Kalinyamat. Di
bawah pemerintahannya, pada pertengahan abad ke 16 perdagangan Jepara
dengan daerah seberang laut semakin ramai. Pedagang-pedagang dari
kota-kota pelabuhan di Jawa seperti Banten, Cirebon, Demak, Tuban,
Gresik, dan juga Jepara menjalin hubungan dengan pasar internasional
Malaka. Dari Jepara para pedagang mendatangi Bali, Maluku, Makasar, dan
Banjarmasin dengan barang-barang hasil produksi daerahnya masingmasing
(Meilink Roelofsz, 1962: 103-115). Dari pelabuhan-pelabuhan di Jawa
diekspor beras ke daerah Maluku dan sebaliknya dari Maluku diekspor
rempahrempah untuk kemudian diperdagangkan lagi. Bersama dengan Demak,
Tegal, dan Semarang, Jepara merupakan daerah ekspor beras (Armando
Cortesao, 1967: 188).
Pada pertengahan abad ke-16
perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut menjadi semakin ramai.
Menurut berita Portugis, Ratu Jepara itu merupakan tokoh penting di
Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Barat sejak pertengahan abad ke-16
(H.J. de Graaf, 1986 : 128). Di bawah Ratu Kalinyamat, strategi
pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguatan sektor perdagangan
dan angkatan laut. Kedua bidang ini dapat berkembang baik berkat adanya
kerjasama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Banten,
dan Maluku.
Meski pun daerahnya kurang
subur, namun di wilayah kekusaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota
pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan di
pantai utara Jawa Tengah
bagian timur yaitu Jepara, Juana, Rembang, dan Lasem. Oleh karena itu
wajar apabila Ratu Kalinyamat dikenal sebagai orang yang kaya raya. Kekayaannya
diperoleh melalui perdagangan internasional, terutama dengan Malaka dan
Maluku. Jepara merupakan pensuplai beras yang dihasilkan di daerah hinterland. Selain
berperan sebagai pelabuhan transito juga menjadi pengekspor gula, madu,
kayu, kelapa, kapok, dan palawija. Apalagi dengan berlakunya sistem comenda
dalam pelayaran dan perdagangan pada waktu itu (D.H. Burger, 1962 :
25-26), membuat Ratu Kalinyamat tidak hanya sebagai penguasa politik,
tetapi juga sebagai pedagang.
Sesuai dengan letak
geografis sebagai kota pelabuhan, Jepara menempati suatu titik yang
menghubungkan dunia daratan dan dunia lautan. Dunia daratan adalah
daerah Pati, Jepara, Juana, dan Rembang, sedang dunia lautan adalah
jalur perdagangan dan pelayaran dengan daerah-daerah sekitarnya mau pun
daerah seberang laut. Dengan demikian dilihat dari segi ekonomi,
pelabuhan Jepara berfungsi sebagai tempat menampung surplus dari daerah hinterland untuk
memenuhi warganya dan didistribusikan ke daerah-daerah lain di seberang
lautan. Sebaliknya Jepara juga berfungsi menampung produk-produk dari
daerah luar untuk selanjutnya didistribusikan atau diperdagangkan ke
daerah-daerah hinterland yang membutuhkan.
Perdagangan laut di pantai
utara Jawa pada abad ke-16 sebagian besar dikuasai oleh bangsawan.
Sebagai penguasa, mereka mempunyai hak beli dahulu bagi barang dagangan
yang datang dan memborong barang dagangan yang tidak terjual.
Pedagang-pedagang asing memberi prioritas kepada penguasa untuk memilih
barang dagangan yang baik dengan harga lebih rendah dari pembeli lain.
Hubungan baik dengan penguasa setempat senantiasa dipelihara untuk
kelancaran usaha mereka. Dengan jabatan politik yang tinggi dan dukungan
finansial yang kuat memberi peluang bagi penguasa untuk menanamkan
pengaruhnya dalam bidang politik dan pemerintahan.
3. Peranan Ratu Kalinyamat dalam Hubungan Internasional
Kebesaran kekuasaan Ratu
Kalinyamat tampak dari luas wilayah pengaruhnya. Menurut naskah dari
Banten dan Cirebon, kekuasaannya menjangkau sampai daerah Banten.
Pengaruh kekuasaan Ratu Kalinyamat di daerah pantai utara Jawa sebelah
barat, di samping karena posisi politiknya juga karena harta kekayaannya
yang bersumber pada perdagangan dengan daerah seberang di pelabuhan
Jepara sangat menguntungkan. Sebagai raja yang memiliki posisi politik
yang kuat dan kondisi ekonomi yang kaya, Ratu Kalinyamat sangat
berpengaruh di Pulau Jawa.
Hanya tiga tahun di bawah
kekuasaan Ratu Kalinyamat, kekuatan armada Jepara telah pulih kembali.
Berita Portugis melaporkan adanya hubungan antara Ambon dengan Jepara.
Diberitakan bahwa para pemimpin Persekutuan Hitu di Ambon telah berulang
kali minta bantuan kepada Jepara, baik untuk memerangi orang-orang
Portugis maupun suku Hative di Maluku (H.J. de Graaf, 1986: 130).
Di depan sudah disebutkan,
bahwa pemerintahan Ratu Kalinyamat lebih mengutamakan strategi
pengembangan Jepara untuk memperkuat sektor perdagangan dan angkatan
laut. Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik kalau
dilaksanakan melalui kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti
Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon. Ini berarti bahwa Ratu
Kalinyamat harus menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama dengan
mancanegara agar kedudukan Jepara sebagai pusat kekuasaan politik dan
pusat perdagangan bisa kokoh.
Bukti tersohornya Ratu
Kalinyamat pada pertengahan abad ke-16 antara lain dapat ditunjukkan
dengan adanya permintaan dari Raja Johor untuk ikut mengusir Portugis
dari Malaka. Pada tahun 1550, Raja Johor mengirim surat kepada Ratu
Kalinyamat dan mengajak untuk melakukan perang suci melawan Portugis
yang saat itu kebetulan sedang lengah dan menderita berbagai macam
kekurangan. Ratu Kalinyamat menyetujui anjuran itu. Pada tahun 1551 Ratu
Kalinyamat mengirimkan ekspedisi ke Malaka. Dari 200 buah kapal armada
persekutuan Muslim, 40 buah di antaranya berasal dari Jepara. Armada itu
membawa empat sampai lima ribu prajurit, dipimpin oleh seorang yang
bergelar Sang Adapati. Prajurit dari Jawa ini menyerang dari arah utara.
Mereka bertempur dengan gagah berani dan berhasil merebut kawasan orang
pribumi di Malaka.
Serangan Portugis ternyata
begitu hebat, sehingga pasukan Melayu terpaksa mengundurkan diri.
Sementara itu, pasukan Jawa tetap bertahan. Mereka baru mundur setelah
seorang panglimanya gugur. Dalam pertempuran yang berlanjut di darat dan
di laut, 2000 prajurit Jawa gugur. Hampir seluruh perbekalan dan
persenjataan berupa arteleri dan mesiu jatuh ke tangan musuh. Walau pun
telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan, ekspedisi ini
akhirnya mengalami kegagalan dan terpaksan kembali ke Jawa (H.J.
de Graaf en G. Th. Pigeaud, 1974 : 105). Nasib malang tampaknya menimpa
armada Jawa, karena tiba-tiba badai datang. 20 kapal penuh muatan
terdampar di pantai dan menjadi jarahan orang Portugis. Dari seluruh
armada Jepara, hanya kurang dari separo yang bernasib baik dan selamat
kembali ke Jepara (Diego de Couto, 1778-1788, : IX, 5 dan H.J. de Graaf,
1987 : 33).
Walau pun pernah mengalami
kegagalan, namun Ratu Kalinyamat tampaknya tidak berputus asa. Semangat
menghancurkan Portugis di Malaka terus berkobar di hati tokoh wanita
ini. Pada tahun 1573, ia kembali mendapat ajakan dari Sultan Aceh, Ali
Riayat Syah untuk menyerang Malaka. Ketika armada Aceh telah mulai
menyerang, ternyata armada Jepara tidak muncul pada waktunya.
Keterlambatan ini dengan tidak sengaja amat menguntungkan Portugis.
Seandainya orang Aceh dan Jawa pada waktu itu bersama-sama menyerang
pada waktu yang bersamaan, maka kehancuran Malaka tidak dapat dielakkan
(Diego de Couto, 17781788, XVII).
Armada Jepara baru muncul
di Malaka pada bulan Oktober 1574. Dibanding dengan ekspedisi pertama,
armada Jepara kali ini jauh lebih besar. Armada ini terdiri dari 300
buah kapal layar dan 80 buah di antaranya berukuran besar. Awak kapalnya
terdiri dari 15.000 prajurit pilihan, yang dilengkapi dengan banyak
sekali perbekalan, meriam, dan mesiu. Salah satu pemimpin ekspedisi
militer ke Malaka pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah Kyai
Demang Laksamana yang oleh sumber Portugis disebut dengan nama
Quilidamao (H.J. de Graaf en Th.
G.
Th. Pigeaud, 1974, : 273). Nama itu pada jaman sekarang setingkat
Laksamana Laut atau Jendral. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai penguasa
bahari Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut dari pada
kekuatan angkatan darat. Ini tidak berarti bahwa Jepara tidak mempunyai
pasukan atau prajurit darat, akan tetapi kekuatan darat Jepara lebih
bersifat defensif yaitu dengan dibangunnya benteng yang mengelilingi
kota pelabuhannya yang menghadap ke darat (Agust. Supriyono, 2005).
Armada Jepara itu memulai serangan dengan salvo, tembakan yang seolah
olah hendak membelah bumi
(H.J. de Graaf, 1986 : 32). Setelah memborbardir kota Malaka dengan
tembakan artileri, keesokan harinya pasukan Jawa didaratkan dan mereka
menggali paritparit pertahanan. Rupa-rupanya peruntungan nasib belum
jatuh di pihak Jawa. Pada waktu armada mereka menyerang, 30 buah kapal
besarnya malahan terbakar. Pasukan Jawa kemudian terpaksa membatasi
gerakan dengan mengadakan blokade laut. Portugis baru berhasil menembus
rintangan itu setelah melakukan serangan berkali-kali. Usaha Portugis
untuk berunding mengalami kegagalan karena pihak Jawa menolak tuntutan
Portugis yang dianggap terlalu berat.
Sementara itu dalam
pertempuran laut pihak Portugis berhasil merebut enam buah kapal Jawa
yang penuh bahan makanan kiriman dari Jepara. Akibat dari kejadian ini,
pasukan Jawa yang selama tiga bulan dengan tegar melakukan blokade laut,
kekuatannya berangsur-aangsur surut karena kekurangan bahan makanan.
Mereka akhirnya terpaksa bergerak mundur dan menderita banyak korban.
Konon hampir dua pertiga dari kekuatan angkatan perang yang berangkat
dari Jepara musnah. Di sekitar Malaka saja terdapat sekitar 7.000 makam
orang Jawa (Diego de Couto, 1778-1788: 5).
Dari pengiriman dua
ekspedisi ke Malaka tersebut membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat adalah
seorang kepala pemerintahan yang sangat berkuasa. Walaupun ia gagal
dalam misinya, namun orang-orang Portugis juga mengakui kebesarannya.
Dalam bukunya, Diego de Couto menyebutnya sebagai Rainha da Japara, senhora poderosa e rica, yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa. Ia juga disebut oleh sumber Portugis sebagai De kranige dame
yaitu seorang wanita yang pemberani. Sifat berani Ratu Kalinyamat ini
tampak dalam perjuangannya yang gigih dalam menentang kekuasaan bangsa
Portugis. Kegagalan serangan Jepara itu terutama disebabkan oleh
kekalahan dalam bidang teknologi militer dan pelayaran. Kapal-kapal
Portugis jauh lebih unggul dalam teknik pembuatannya dan lebih besar
dari pada kapal-kapal Jepara. Meskipun perlawanan terhadap Portugis
mengalami kegagalan, tetapi pengiriman armada itu cukup menunjukkan
bahwa perekonomian di Jepara pada saat itu sangat kuat.
Sumber Portugis menyebutkan
pula bahwa pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara juga menjalin
hubungan dengan para pedagang di Ambon. Beberapa kali para pemimpin
pelaut atau pedagang Ambon di Hitu minta bantuan Ratu Jepara untuk
melawan orang-orang Portugis. Hal ini merupakan indikasi bahwa Jepara
juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon (H.J. de Graaf en Th.
G. Th. Pigeaut, 1974 : 273).
Pada tahun 1579, Pakuan
Pajajaran, sebuah kota dalam Kerajaan Sunda di Jawa Barat yang belum
masuk Islam, ditaklukkan oleh Raja Banten. Pangeran Jepara putra
Hasanuddin dari Banten yang menjadi putra angkat Ratu Kalinyamat
ternyata tidak ikut dalam ekspedisi melawan Pejajaran. Demikian pula
Ratu Kalinyamat tidak disebutkan ikut dalam ekspedisi itu. Ada
kemungkinan bahwa pada tahun 1579 Ratu Kalinyamat baru saja meninggal.
Keponakannya dan sekaligus putra angkatnya, Pangeran Jepara, telah
menggantikannya sebagai raja
(H.J. de Graaf, 1986: 131).
Sebagai kota pantai, Jepara
merupakan kota bandar perdagangan yang karena fungsinya menarik pedagang
dari berbagai suku dan kebangsaan untuk tinggal sementara mau pun
menetap. Di bidang politik dan pertahanan, pelabuhan Jepara sebagai
pusat pengiriman ekspedisi-ekspedisi militer untuk meluaskan kekuasaan
ke Bangka dan ke Kalimantan Selatan yaitu Tanjung Pura dan Lawe. Di
bawah Ratu Kalinyamat, perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut
menjadi semakin ramai. Dia begitu dihormati sebagai kepala keluarga
Kasultanan Demak yang sebenarnya.
Di bawah kekuasaannya, dia mampu mempunyai kekuatan armada yang
tangguh. Dia juga menjalin kerja sama dengan Ambon, sehingga para
pemimpin persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan
kepada Jepara baik untuk memerangi orang Portugis mau pun suku Hative di
Maluku. Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan
Jepara lebih diarahkan pada penguasaan sektor perdagangan dan angkatan
laut. Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik karena adanya
kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku,
Banten, dan Cirebon.
Bukti kebesaran Jepara
terlihat pada tahun 1550, ketika Raja Johor minta bantuan armada perang
kepada Jepara untuk melakukan perang jihad melawan Portugis di Malaka.
Jepara mengirimkan 40 buah kapal dengan kapasitas angkut 1.000 orang
prajurit bersenjata. Meski pun prajurit Jepara mengalami kekalahan, Ratu
Kalinyamat terus berusaha melakukan serangan lagi terhadap Portugis di
Malaka. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat sekali lagi diminta oleh Sultan
Ali Mukhayat Syah dari Aceh untuk menggempur Portugios di Malaka. Armada
yang dikirim sekitar 300 buah kapal, 80 buah kapal berukuran besar yang
masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri atas 15.000 prajurit
pilihan dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu.
Dengan armadanya yang kuat,
Ratu Kalinyamat juga pernah melakukan dua kali penyerangan kepada
Portugis di Malaka, yaitu pada tahun 1551 dan tahun 1574. Kedua
penyerangan itu dilakukan Ratu Kalinyamat dalam rangka membantu
Kesultanan Johor dan Aceh untuk mengusir Portugis dari Malaka.
Penyerangan pertama gagal, sedangkan pada penyerangan kedua, meskipun
telah berhasil mengepung Malaka selama tiga bulan, ternyata pasukan
Jepara ini tidak dapat memenangkan penyerangan dan terpksa kembali ke
Jawa.
Salah satu pemimpin
ekspedisi militer ke Malaka pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat adalah
Kyai Demang Laksamana. Nama itu pada zaman sekarang setingkat dengan
Laksamana Laut atau Jendral. Hal itu menunjukkan bahwa sebagai pnguasa
bahari, Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut daripada
kekuatan angkatan darat. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa Jepara
tidak mempunyai pasukan atau prajurit angkatan darat, akan tetapi,
kekuatan darat Jepara lebih bersifat defensive, yaitu dengan jalan
dibangunnya benteng yang mengelilingi kota pelabuhan yang menghadap ke
darat atau daerah pedalaman Jepara.
Kekalahan armada laut Jawa
baik pada ekspedisi Adipati Unus maupun yang dikirim oleh Ratu
Kalinyamat memang merupakan kenyataan yang harus diterima. Hal ini
karena diakibatkan lebih canggihnya teknologi yang dimiliki oleh
Portugis yang memiliki senjata pelontar yang unggul, yaitu meriam.
Meskipun demikian, harus diakui bahwa pada masa pemerintahan Ratu
Kalinyamat masyarakat Jepara telah tampil dalam panggung sejarah
Nusantara sebagai masyarakat bahari. Ciri utama masyarakat bahari adalah
di dalam kehiupan mereka, khususnya dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari diperoleh dari kegiatan atau pekerjaannya mngeksploitasi dan
memanfaatkan sumber daya laut. Pada zaman itu, di samping berkehidupan
sebagai nelayan, aktivitas pelayaran dan perdagangan adalah yang paling
utama.
Bukti kejayaan Jepara pada
zaman itu antara lain adalah armada laut yang besar dan kuat yang
dimiliki Ratu Kalinyamat. Usaha melanjutkan cita-cita Adipati Unus untuk
mengusir Portugis dari Malaka, menunjukkan bahwa Malaka merupakan salah
satu titik dari jaringan perdagangan kota pelabuhan Jepara yang mulai
mendunia. Sumber Portugis juga menjelaskan bahwa pada masa kekuasaan
Ratu Kalinyamat, Jepara juga menjalin hubungan dengan para pedagang di
Ambon. Beberapa kali para pemimpin pelaut dan pedagang Ambon di Hitu
meminta bantuan pertolongan kepada Ratu Kalinyamat untuk melawan
orang-orang Portugis maupun dengan suku lain yang masih seketurunan,
yaitu orang-orang Hative. Hal ini merupakan indikasi
bahwa Jepara juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon. V. KESIMPULAN
Ratu Kalinyamat dikenal
sebagai tokoh historis legendaris yang dibicarakan masyarakat dengan
berbagai versi. Sebagai akibat dari peperangan Arya Penangsang, di
Jepara terdapat toponimtoponim nama desa yang berhubungan dengan
dicederainya Pangeran Hadiri oleh prajurit Arya Penangsang hingga tewas.
Di bawah pemerintahan Ratu
Kalinyamat, Jepara semakin berkembang sebagai bandar perdagangan dan
pelayaran. Ratu Kalinyamat tidak saja memegang peranan penting dalam
politik dan pemerintahan, tetapi juga menguasai sumber-sumber ekonomi
terutama hasil perdagangan dan pelayaran seberang laut. Adanya sistem comenda menyebabkan
Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara yang sangat kaya. Lagi pula ia
memiliki angkatan laut yang cukup kuat untuk mendukung aktivitas
pelayaran dan perdagangan seberang laut. Jepara berkembang menjadi
bandar perdagangan dan bandar transito yang dikunjungi para pedagang
dari berbagai bangsa dan suku bangsa. Oleh karena ia menguasai aktivitas
ekonomi dan perdagangan itu, maka wajar jika ia dikenal sebagai
penguasa yang sangat kaya.
Kekayaan Ratu Kalinyamat
merupakan faktor pendukung utama bagi kekuatan politiknya. Berkat
kekayaannya, ia memiliki armada angkatan laut yang kuat untuk melakukan
serangan terhadap Malaka pada tahun 1551 dan 1574. Serangan itu
dilakukan atas dukungannya terhadap Kerajaan Johor dan Aceh, yang
memintanya untuk membantu mengusir Portugis dari Malaka. Permintaan
kedua kerajaan itu memberikan gambaran bahwa secara politis Ratu
Kalinyamat dikenal sebagai penguasa yang sangat kuat dan namanya cukup
termasyhur.
Popularitasnya sebagai
kepala pemerintahan tidak hanya dikenal di kawasan Nusantara bagian
barat saja, tetapi juga di Nusantara bagian timur. Keberaniannya melawan
kekuatan asing telah dikenal di sepanjang Nusantara dari Aceh, Johor,
hingga Maluku. Di samping itu, Ratu Kalinyamat dapat menjalankan politik
persahabatan dengan kerajaan pedalaman sehingga dapat memelihara
stabilitas politik. Dalam masa pemerintahannya, ia tidak mempunyai
musuh.
Sebagai pewaris kekuasaan
Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat memegang peranan yang terpenting
dibanding dengan penguasa-penguasa yang lain di pantai utara Jawa pada
abad ke-16. Sebagai pemersatu keluarga Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat
mempunyai pengaruh yang cukup kuat di wilayah Banten dan Cirebon. Ia
juga mampu mempertahankan konsolidasi keluarga Kasultanan Demak. Tidak
berlebihan kiranya apabila Ratu Kalinyamat disebut sebagai tokoh
pemimpin keluarga Kasultanan Demak dan kepala pemerintahan yang terkuat
dari dinasti Demak. Hanya Jeparalah yang mampu mempertahankan eksistensi
dan peranan Demak sebagai kerajaan yang bercorak maritim di pantai
utara Jawa pada abad ke-16, yang memiliki kebesaran seperti
pendahulunya.
Dengan mempelajari kehidupan
dan peranan Ratu Kalinyamat, diperoleh pandangan yang lebih lengkap
mengenai perkembangan historis peranan dan kedudukan wanita Indonesia.
Ratu Kalinyamat menggambarkan sosok wanita yang tidak dibatasi oleh
tradisi. Aktivitas dan peranan Ratu Kalinyamat memberikan suatu bukti
bahwa tidaklah benar jika wanita Jawa dari kalangan bangsawan tinggi
sangat dibelenggu oleh kungkungan feodalisme. Kasus Ratu Kalinyamat
jelas membuktikan bahwa wanita kalangan bangsawan justru mempunyai
peluang yang lebih besar untuk tampil guna memainkan peranan penting
yang sangat dibutuhkan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi.
Peluang untuk dapat melakukan peranan penting dalam bidang politik
karena didukung oleh wewenang tradisionalnya, terutama karena keturunan.
Ratu Kalinyamat
telah melakukan aktivitas-aktivitas nyata bagi negaranya.
DAFTAR PUSTAKA
Cortesao, Armando. 1967. The Suma Oriental of Tome Pires. Nendeln/Lichtenstein: Kraus Reprint-Limited, 1967.
Couto, Diego de. 1778-1788. Da Asia. Jilid V. Lisboa.
Djajadiningrat, Hoesein. 1983. Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten. Terjemahan KITLV dan LIPI. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Gina dan Babariyanto. Babad Demak II. 1981. Transliterasi Terjemahan Bebas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Graaf, H.J. 1986. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Terjemahan Grafitipers dan KITLV. Jakarta: Grafitipers.
Kartodirdjo, Sartono (ed.). 1977. Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Jakarta: Balai Pustaka.
_______. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Jakarta: Gramedia.
Meilink, Roeloffsz. 1962. Asia Trade: Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago between 1500 and about 1630. The Hague : Martinus Nijhoff.
Panitia Penyusunan Hari Jadi Jepara Pemda Kabupaten Tingkat II Jepara. 1988. Sejarah dan Hari Jadi Jepara. Slamet Mulyono, 1968. Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Jakarta: Bhatara. Suroyo, A.M. Djuliati, dkk. 1995. Penelitian Lokasi Bekas Kraton Demak. Kerjasama Bappeda Tingkat I Jawa Tengah dengan Fakultas Sastra UNDIP Semarang. Sulendraningrat, P.S. 1972. Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli. Tjirebon: Pusaka. Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Koleksi KGB. No 7. Sudibya, Z.H. 1980. Babad Tanah Jawi. Jakarta: Proyek Peneribitan Buku Sastra Indonesia
dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Veth, P.J. 1912. Java, Geographisch, Ethnologisch, Historisch. Cetakan ke dua. Haarlem.
0 komentar:
Posting Komentar